Syifaul Qulub

EFEKTIFKAN IMAN UNTUK GAPAI TAKWA

Surabaya, 30/4/2018. Sahabat Tourindo yang dimuliakan Allah, keimanan seseorang tidak statis, tetapi sangat labil/dinamis. Dinamika iman kadang bisa negatif (kurang efektif), kadang bisa positif (efektif) atau lebih tebal/berkualitas.

Sahabat Tourindo yang dirahmati Allah, kualitas iman seseorang senantiasa diuji dengan berbagai hal. Secara kategorial dapat dibedakan menjadi dua jenis ujian yaitu berupa (1) musibah dan (2) nikmat. Sebagian orang lulus ujian musibah, tidak lulus ujian nikmat. Akan tetapi ada yang lulus ujian nikmat, tidak lulus ujiam musibah. Kualitas iman seseorang ditandai tidak terlalu susah/bersedih tatkala ditimpa musibah, tetapi tidak terlalu berbangga tatkala diberi nikmat karena ada kesadaran terdalam bahwa adanya musibah dan nikmat adalah iradat Allah SWT.

Sahabat Tourindo yang dimuliakan Allah, sebagian manusia lebih mudah susah karena musibah, sebaliknya sebagian manusia lebih mudah bahagia karena nikmat. Kualitas iman yang teruji senantiasa bahagia kala diuji dengan musibah dan nikmat. Iman yang efektif senantiasa membuat orang bahagia dalam segala suasana dan segala jenis ujian. Iman yang efektif berkualitas tidak terikat oleh apa dan siapa, kecuali terikat dengan Allah SWT yang menjadikan ketakwaan dan kebahagiaan.

Sahabat Tourindo yang dirahmati Allah, untuk efektifkan iman ada baiknya kita renungkan Al Quran, Surat Al Baqarah (QS, 2:155-157). Allah SWT senantiasa menguji dengan berbagai hal seperti ketakutan. Kelaparan, terbatasnya harta kekayaan, buah-buahan, dan lain-lain. Tatkala diuji berupa musibah senantiasa berucap "inna lilahi wainna ilaihi rojiun". Iman yang efektif senantiasa bertakwa/berserah diri kepada Allah SWT. Pesan takwa, kabar bahagia/gembira ini selalu diingatkan oleh khatib setiap khotbah jumat. Semoga sahabat Tourindo senantiasa bisa efektifkan iman yang dapat membawa ketakwaan yang membahagiakan. (Tubiyono)

BERITA BOHONG (HOAX)

Surabaya, 14/4/2018. Assalamualaikum sahabat Tourindo yang dirahmati Allah SWT, akhir-akhir ini, dalam kehidupan sehari-hari banyak beredar berita bohong (hoax), dalam budaya Jawa disebut "kabar burung", dalam bahasa Al Quran disebut "ifkun". Bahkan berita yang diproduksi sedemikian rupa sangat meyakinkan kepada pembaca/pendengarnya dan tidak jarang banyak pengikutnya (follower) yang ditunjang dengan instrumen teknologi canggih dan jaringan (networking) yang luas. Akibatnya, berita "ifkun" atau "hoax" (bohong) akan cepat menyebar ke seluruh lapisan masyarakat yang sangat plural sosial, budaya, adat, dan kebiasaan. Tingkat pemahaman teks pun beragam (literasi dan subtansi). Dahsyatnya kabar "hoax" dapat diibaratkan seperti bencana "air bah" yang meluap atau seperti "tsunami" yang dampak kerusakannya tak terperikan.

Sahabat Tourindo yang diramati Allah SWT, lalu bagaimanakah kita yang memiliki predikat orang beriman (mukminun) bersikap atas berita "kabar burung" yang demikian itu? Akankah kita larut dalam "ifkun"? Akankah kita "kerut" dalan berita "hoax"? Ataukah kita berada dalam kebingungan yang tidak tahu harus bersikap seperti apa? Begini salah, begitu salah?

Sahabat Tourindo yang dirahmati Allah SWT, sebagai orang beriman kita punya pedoman yang subtansi isinya tidak duragukan lagi sebagai petunjuk (hudan) arah bertindak secara istiqomah yaitu Al Quran. Oleh karena itu, untuk menghadapi berita bohong (hoax) perlu direnungkan QS 24:11-12. Pada dasar berita "ifkun" alias "hoax" ada sisi positif dan negatif. Sebagai orang beriman hendaknya tidak mengambil keuntungan dari berita "kabar burung" karena akan merugikan diri sendiri.

Sahabat Tourindo yang dirahmati Allah, mengapa ketika menerima berita "hoax", orang beriman (mukminun) tidak bersangka baik terhadap diri sendiri dan tidak mengatakan "hadza ifkun mubin" atau "ini kebohongan yang nyata". Sahabat Tourindo, bagaimana menurut Anda. (Tubiyono).

MARI BER-TA 'AWUDH

Assalamu alaikum ww, sahabat tourindo yang dirahmati Allah SWT, ada sebuah kisah nyata. Kisah ini disampaikan oleh Drs. Muadib Aminan AR, salah satu pembimbing jamaah umrah/haji khusus TOURINDO GKS. Saat itu, pemberangkatan jamaah haji khusus 2014, ada salah satu jamaah Tourindo yang belum bisa membaca Al Quran sama sekali, dalam bahasa Suraboyoan "nol pothol" masalah baca Al Quran. Akan tetapi, anggota jamaah tersebut memiliki kemauan yang kuat untuk bisa membaca Al Quran, maka yang bersangkutan belajar mengaji di kantor Tourindo, Jl Jemur Andayani No 3 Surabaya, dibimbing oleh Ustadz Muadib Aminan AR. Hebatnya, belajar dalam waktu singkat, kurang satu bulan sudah bisa membaca Al Quran. Lebih hebat lagi, ketika pelaksanaan ibadah haji di tanah suci bisa khatam Al Quran, luar biasa.

Sahabat Tourindo yang dirahmati Allah, mengapa calon jamaah (calhaj) tersebut dalam waktu singkat bisa baca Al Quran? Faktor apa yang bisa mempengaruhinya? Apa metode belajar Al Quran? Apa mungkin ustadznya? Mungkin masih banyak pertanyaan lain yang bisa diajukan. Salah satu calhaj Tourindo memiliki ikhtiar dengan kesungguhan hati sehingga bisa mengalahkan segala godaan internal dan eksternal. Godaan eksternal dari lingkungan sekitar, pekerjaan kantor/rumah, dan lain-lain. Secara internal hati dan pikirannya fokus sehingga gangguan bisa diatasinya.

Sahabat Tourindo yang dirahmati Allah SWT, ternyata Al Quran telah menuntun kepada pembacanya yaitu salah satu adabnya ada pada Suat An Nahl (QS, 16:98-99) apabila membaca Al Quran supaya memohon perlindungan Allah dari godaan syaitan yang terkutuk atau yang disebut bacaan "ta'awudh". Dengan bacan taawudh syaitan lari tidak berkuasa menggoda atas orang yang beriman dan bertakwa. Oleh karena itu, sebelum belajar mengaji mari ber-ta'awudh. Wass ww. (Tubiyono)