Surabaya, 30/9/2019. Lagu baru Didi Prasetyo yang lebih dikenal Didi Kempot, berjudul "Ambyar" mengakomodasi keping-keping hati yang patah bagi anak-anak muda. Dia memprediksi lagunya disukai khusus generasi muda (milenial) yang sedang patah hati dan galau berat. Fenomena yang demikian, diartikulasikan Didi Kempot dengan tidak cengeng, tetapi dibuat para penikmatnya ingin berjoget (Kompas, 29/9/2019).

Hati yang galau berat dialami oleh semua manusia tanpa kecuali. Manusia pertama yang hatinya patah berkeping-keping dan galau berat adalah Adam dan Hawa. Betapa tidak galau berat, keduanya dipisahkan Allah dalam waktu relatif lama (ratusan tahun), sehingga tidak punya kekuatan yang tersisa, kecuali doa untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

'Ya Allah, kami telah menganiaya diriku sendiri dan jika Engkau tidak mengampuniku dan tidak memberi rahmat kepada diriku, pastilah diriku termasuk orang yang merugi ' (QS, 7:23).

Ternyata, doa Adam dan Hawa tersebut, "ambyar" dikabulkan Allah SWT di Jabal Rahmah, Gunung Kasih Sayang, dan keduanya hidup bersama kembali seperti di surga berkat hidayah-Nya.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Adam dan Hawa yang sangat menderita adalah kelembutan hati (latiful qolb) yang menyebabkan hatinya terbuka terhadap cahaya ilahi, maka sebagai rasa syukur Adam dan Hawa, keduanya berthawaf. Kisah ini termasuk salah satu insipirasi mengapa manusia berumrah dan berhaji. (Tubiyono)