Pernyataan Albert Einstein sangat popular dan sering dikutip orang adalah "science without religion is lame, religion without science is blind" (ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta). Pernyataan itu relevan dengan fenomena thawaf yang dilaksanakan oleh umat muslim ketika menunaikan ibadah haji atau pun ibadah umrah.

Ada satu pertanyaan bersifat filosofis religius yang perlu dicari argumentasi/alasan rasional sebagai jawaban berdasarkan sains (ilmu pengetahuan). Untuk itu, perlu memperhatikan (QS, 2: 30) sebagai wahyu ilahi di satu sisi dan ilmu tafsir (intepretasi) pada sisi lainnya.

Pada suatu ketika Allah berdialog dengan para malaikat tentang skenario awal penciptaan manusia sebagai kholifah di muka bumi (QS, 2:30):
Allah SWT : Inni jaa'ilun fil ardhi kholifah.
Malaikat : Ataj'alu fiiha manyufsidu fiiha wayusfiku dima'
Malaikat : Wanahnu nusabbihu bihamdika wanuqodisulak.
Allah SWT : Innii a' a'lamu maalata'lamuun.

Secara mikrolinguistik, jawaban Allah SWT kepada para malaikat "Innii a'lamu maalata'lamuun" (sesungguhnya Aku (Allah) lebih tahu apa yang kamu (para makaikat) tidak ketahui merupakan otoritas kemahakuasaan-Nya.

Para mufasirin (ahli ilmu tafsir) menjelaskan bahwa para malaikat tidak serta merta meragukan kekuasaan Allah tentang rencana penciptaan manusia di muka bumi. Para malaikat memiliki pengalaman bahwa penguasa di bumi sebelum manusia salah satunya adalah anak turun banul jan. Keturunan banul jan satu sama lain saling berebut kekuasaan sehingga membawa kerusakan di muka bumi. Dengan kata lain, keturunan banul jan tidak amanah. Akhirnya, Allah SWT memerintahkan iblis untuk menenteramkan dan dibantu oleh para malaikat dan berhasil mengusir banul jan. Keberhasilan mengusir banul jan membuat iblis mulai sombong.

Kenyataan makhluk selain manusia yang berkuasa dan berbuat keonaran di muka bumi, maka para malaikat dan iblis ada kekhawatiran akan terjadi kerusakan dan pertumpahan darah akan terulang. Hal itu merupakan manifestasi ketidaktahuan malaikat dan iblis akan skenario besar Allah SWT.

Terkait dengan ketidaktahuan malaikat dan iblis tersebut, bahwa Allah memberikan hidayah kepada Adam dan keturunannya dengan mengutus nabi, rasul, ustadz, da'i dan orang sholeh di muka bumi. Untuk itu, kegiatan ibadah haji yang ditandai dengan wukuf di Padang Arofah sebagian dari bukti ketaatan anak keturunan Adam kepada Allah SWT. Fenomena (bukti) tahunan, wukuf di Arofah, dipertontonkan kepada para malaikat yang sejak awal meragukan rencana penciptaan manusia sebagai kholifah di muka bumi.

Para mufasirin menjelaskan respon malaikat terhadap dialog antara Allah SWT dan malaikat (QS, 2:30) adalah adanya perasaan bersalah kepada Allah SWT. Terkait perasaan bersalah itu, para malaikat melakukan thowaf dengan mengelilingi arsy memakan puluhan tahun dan belum dapat satu putaran. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk membuat baitullah (ka'bah) agar ketika melakulan thowaf tidak memakan waktu lama. Salah satu peletakan dasar ( pondasi) ka'bah yang dapat digunakan thowaf anak Adam adalah di kota Bakka (Mekah)


Adam dan Hawa yang diberi hak hidup di taman surga dengan segala fasilitas lengkap serba ada. Kisah penciptaan Adam dan Hawa yang hidup di taman surga sampai dengan dikeluarkan dari taman surga ke bumi karena melanggar larangan Allah SWT (QS, 2:31-38).

Kehidupan Adam dan Hawa di taman surga dalam keadaan tenang, damai, selamat, serba kecukupan apa yang diinginkannya bisa terwujud. Hanya satu hal yaitu "laa taqrobaa haadzihi syajarota" (jangan mendekati pohon ini) agar tidak tersesat (QS, 2:35). Kepatuhan Adam sangat kuat sehingga tidak bisa digoda iblis. Sementara iblis menggoda Adam lewat isterinya, Hawa, dengan mendekati pohon bahkan memakan buahnya. Akibat pelanggaran itu, Adam dan Hawa hidupnya tersesat dan diturunkan di muka bumi. Antara Adam dan Hawa terdampar di bumi saling berjauhan, dan terpisah dalam jangka waktu yang lama tidak hanya tahunan, puluhan tahun, bahkan ratusan tahun tidak hidup bersama. Sampailah pada titik kulminasi muncullah kesadaran religius dengan penyesalan yang tulus dan mendalam atas kealpaan dan kehkilafan selama di taman surga. Akhirnya, Adam berdoa "robbana dholamnaa angfusanaa wa ilan taghfirlanaa wa tarhamnaa lanaa kunanna minal khosiriin".

Allah SWT yang memiliki sifat maha pengampun dan maha pengasih dan penyayang, maka Adam dan Hawa dioertemukan di bukit (jabal) rahmah. Keduanya saling nenumpahkan kasih sayang karena tersesat yang relatif lama. Dengan dipertemukannya Adam dan Hawa, Jibril mebantu Adam untuk thowaf sebagai ungkapan syukur atas karunia dari Allah SWT yang berupa jebahaguaan busa bersama dengan Hawa.

Akhirnya, dapat dijawab judul tulisan ini mengapa manusia beribadah haji dan umrah. Ada dua alasan yang sangat fundamental, (1) manusia berhaji dan berumrah secara khusus ada aktivitas thowaf sebagai wujud penyesalan, pengakuan dosa seperti dicontohkan para malaikat yang berthowaf mengelilingi arsy dan akhirnya disuruh membuat ka'bah agar makhluknya tidak kesulitan dalam berthowaf. Berikutnya, alasan (2) manusia berhaji dan berumrah sebagai wujud rasa syukur yang mendalam atas karunia Allah yang maha pengasih dan penyayang, seperti yang diteladankan Nabi Adam AS. (Tubiyono)