Surabaya.12/7/ 2017.Banyak kepala daerah yang senantiasa mengabdikan diri kepada ibu pertiwi yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan bekerja keras. Bekerja keras bisa disebut bekerja sepenuh hati untuk memenuhi panggilan nurani yang paling dalam karena bekerja merupakan bagian dari ibadah (sosial).

Ada satu cermin bening, gambarnya jelas dapat dijadikan referensi calon pemimpin daerah. Cermin bening itu melekat pada pribadi HR Mohammad Faried, S.H., Direktur Utama PT Tourindo Gerbang Kerta Susila, yang merangkak dari bawah sebagai pegawai Kota Surabaya, Wedana di Kabupten Probolinggo, akhirnya menjadi Bupati Lamongan dua pereode beturut-turut.

Pereode pertama ketika dilantik oleh Gubernur Jawa Timur, Soelarso, keadaan Kabupaten Lamongan dalam kondisi sangat lemah dari berbagai aspek kehidupan. Sebaliknya, Lamongan dikenal dalam hal negatif seperti terjangkitnya penyakit (lepra, kudis), pusat prostitusi, krisis air bersih, dan banjir luapan Bengawan Solo. Selain itu, pendapatan asli daerah Kabupaten Lamongan saat itu hanya 800 juta rupiah per tahun untuk penduduk 1,2 juta orang. Posisi Kabupaten Lamongan menempati ranking tiga dari bawah. Jadi, kondisi daerah saat itu sangat memprihatinkan.

Langkah strategis yang dilakukan HM Mohammad Faried untuk mengatasi permasalahan di lapangan adalah membangun bidang kesehatan, pertanian, dan sosial kemasyarakatan. Bidang garap tersebut tidak diselesaikan sendiri, tetapi dikoordinasikan secara horisontal dan vertikal. Penyelesaian yang guyub, bersatu, tolong-menolong dalam bingkai ketaatan (ketakwaan) kepada Allah SWT. Langkah kecil, tetapi indah itu merupakan implementasi cuplikan surat Al Maidah (QS, 5:2) “wa ta awanu alal birri wa takwa” memiliki dampak positif bagi semua umat, utamanya, rakyat Lamongan.

Sebagai Bupati Lamongan pereode kedua, 1994-1999, karena telah ada dasar-dasar pereode pertama mejabat kepala daerah, maka Kabupaten Lamongan melesat menjadi perhatian nasional. Indikatornya adalah pada tahun 1997, Bupati Lamongan, sekarang Dirut Tourindo, mendapat penghargaan tertinggi di bidang kerja (karya) sempurna berupa PARA SAMYA PURNA KARYA NUGRAHA.

Sebagai kepala daerah harus fokus melayani kesejahteraan rakyatnya, sebagai pemimpin adalah sebuah amanah yang harus dijalankannya. Eksistensi seorang pemimpin yang baik “khoir” adalah untukkepentingansesamanya,sepertisabdaNabi Muhammad SAW “khoirunnas ‘anfa’ahumlinnas”. Mohammad Faried mengutamakan tata kelola kebersamaan dengan membentuk “team work” yang kompak. Selain itu, gaya kepemimpinannya mampu menginspirasi kesadaran rakyat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Renungan singkat ini diharapkan jadi inspirasi generasi muda calon pemimpin bangsa masa depan.(Tubiyono)