Surabaya, 13/6/2017. Sebuah karya sastra bukanlah sesuatu yang hampa, kosong, bohong – hoaks – seperti yang dikemukakan oleh Riki Dhamparan Putra (Kompas, 12/6/2017), melainkan karya sastra memiliki kebenaran sendiri, memiliki kandungan nilai universal yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu.

“Robohnya Surau Kami” karya AA Navis secara metaforis menyindir secara cerdas kepada kondisi keberagamaan masyarakat masa itu, masa kini, dan mungkin masa depan yang dinilai masih sangat primitif (A.Helmy Faishal Zaini, Kompas. 19/11/2016). Keprimitifan keberagamaan ini digambarkan tokoh utama Haji Soleh. Karena keberagamaan seseorang diukur oleh tingkat pemahaman kesalehan secara ritual kuantitatif personal. Sebaliknya kesalehan sosial tidak diperhatikan sama sekali termasuk keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan kata lain, AA Navis ingin menyampaikan bahwa pemahaman keberagamaan yang sempit itu tidak tepat. Pemahaman keberagamaan  itu harus seimbang antara hubungan personal dengan Tuhan dan hubungan sosial, budaya, serta politik di lingkungannya.

Kisah Haji Soleh dalam “Robohnya Surau Kami” ada kemiripan kisah seorang abid (ahli ibadah). Seorang abid ini yakin akan masuk surga yang tingkat tinggi, karena pandai beribadah. Suatu ketika ia berpesan kepada Nabi Musa untuk menanyakan kepada Tuhan akan dimasukkan surga tingkat berapa. Ternyata dijawab Tuhan akan dimasukkan ke neraka. Ia tidak percaya mungkin Nabi Musa salah dengar, maka abid minta untuk menanyakan ulang kepada Tuhan, tetapi jawaban Tuhan sama yaitu masuk neraka. Kenapa begitu? Karena Tuhan menciptakan manusia bukan untuk bersikap egoistik termasuk alasan spiritual. Tuhan menciptakan manusia untuk membantu manusia lain (Salahudin Wahid, Kompas.9/6/2017).
Kisah Haji Soleh dan kisah seorang abid itu menegaskan bahwa paham keberagamaan itu tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri kepada Tuhan secara ritualistik, tetapi harus seimbang dengan hubungan sesama manusia untuk saling membantu, kesalehan sosial.

Agama dengan mudah diterima secara global karena mengajarkan sifat universal untuk kebaikan sesama antara lain etika kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak atau etika. Bahkan dikatakan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, seseorang selalu memiliki tenggang rasa dengan sesama , tolong-menolong, dan menghindari ketidakadilan, kesombongan, keangkuhan, dan segala bentuk yang bisa menyakiti orang lain (Abdul Waid, Kompas, 12/6/2017). Terkait dengan hal itu, Firman Allah SWT (QS 107:1-7) memiliksi relevansi yang substansial yang perlu diimplementasikan dalam gerakan hidup sehari-hari. (Tubiyono)