Judul di atas kelihatan sensitifkarena diksi yang digunakan adalah “pendusta”. “Pendusta” berasal dari kata dasar “dusta” mendapatkan prefiks “pe- “ sehingga menjadi “pendusta” yang referensnya adalah person (orang). Apalagi dibentuk menjadi frasa “pendusta agama” yang berasosiasi negatif kepada pelakunya.
Judul tersebut sebenarnya sebuah pertanyaan retoris dari salah satu ayat dalam Al Quran yaitu (QS, 107:1). Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama (Islam)? Terkait dengan pesan ayat tersebut menarik untuk disimak tulisan A. Helmy Faishal Zaini dalam halaman opini (Kompas, 19 November 2016) dan tulisan analisis politik Yudi Latif (Kompas, 23 Mei 2017). Deskripsi kedua tulisan tersebut erat kaitannya dengan substansi isi al Quran (QS, 107:2-7).
Deskripsi “pendusta agama” secara jelas disebutkan dalam surat Al Maun (QS, 107:2-7). “Pendusta agama” adalah orang yang suka (biasa) menghardik anak yatim, tidak berupaya memberikan makan (fakir) miskin, lalai terhadap salatnya, hanya ria (pamer), dan berat memberikan bantuan (pertolongan) kepada sesamanya.
Jadi, secara substansial ayat pertama yang dipakai judul ini (QS, 107:1) “pendusta agama” diharapkan endingnya menjadi sebaliknya yaitu “penegak agama”. Yang dimasksud “penegak agama” adalah orang yang senang menyantuni anak yatim, senantiasa menganjurkan (berupaya) memberi makan kepada (fakir) miskin, tegak salatnya (sadar/tidak lupa), tidak ria, dan senang memberikan bantuan kepada sesamanya. Dengan demikian, kandungan (QS, 107:1-7) secara semantis mengandung peringatan dan sekaligus petunjuk “bagaimana beragama yang benar” sehingga agama bisa tegak.

Berdasarkan renungan di atas, alangkah indahnya apabila setiap personal yang beragama senantiasa menjaga pola komunikasi yang seimbang (balance) antara vertikal untuk kesalehan personal kepada Tuhan dan horisontal untuk kesalehan sosial. Personal yang bisa menempatkan pada posisi itu insya Allah akan berkontribusi kondisi “rahmatan lil ‘alamin” bukan hanya kepada tumbuhan dan hewan, melainkan lebih mulia lagi kepada sesama manusia.Dalam implementasi keberagamaan tidak hanya retorika, tetapi dimanifestasikan dalam tindakan nyata. Ungkapan bahasa Jawa dikatakan “ber budi bawa leksana” bersatunya antara perkataan dan tindakan.(Tubiyono)