Secara kebahasaan kata ayah memiliki berbagai padanan dalam satu bahasa atau pun lintas bahasa. Kata ayah bersinonim dengan kata bapak, papa, papi, father, abi dan lain-lain dari berbagai bahasa dan budaya.
Pada dasarnya seorang ayah adalah leader, pemimpin dalam keluarga batih (inti) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Di samping sebagai pemimpin dalam keluarga inti juga sebagai pemimpin dalam dzurriyah keluarga besarnya . Seorang leader tidak etis mementingkan diri sendiri, memperkaya diri lupa dengan anak (buah) yang dipimpinnya. Apalagi dilakukan dengan cara-cara yang dhalim yaitu menggunakan hak yang bukan haknya seperti korupsi atau pun cara lainnya yang tidak terpuji.


Saat ini, banyak personal yang pernah duduk sebagai legislatif dan eksekutif baik di dalam negeri maupun luar negeri tergoda akan kemewahan duniawi. Kemewahan duniawi mengaburkan cara pandang yang hakiki sehingga menjerumuskan ke arah kehinaan di mata manusia dan di hadapan Allah SWT.
Berdasarkan fakta tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk bagaimana menjadi seorang ayah, menjadi leader yang bertanggung jawab. Salah satu caranya adalah dengan berdoa atau memohon kepada-Nya. Perhatikan (Q.S. Ibrahim 14:37) yang mendeskripsikan seorang ayah - Ibrahim - akan meninggalkan anak - dzurriyah – di tempat yang gersang tidak ada tanaman apa pun di dekat Baitullah yang dihormati.


Permohonan Nabi Ibrahim yang pertama bukan masalah keduniawian sebagaimana manusia kebanyakan, tetapi permohonan yang pertama adalah agar anak turunnya mendirikan sholat. Pentingnya sholat ini bagi anak cucu Ibrahim juga dapat diperhatikan dalam (Q.S. Ibrahim 14:40).
Permohonan selanjutnya adalah agar hati sebagian manusia condong kepada anak turunnya, dan memohon agar mereka mendapatkan buah-buahan. Dengan demikian, anak turunnya serta sebagian orang yang hatinya condong kepada mereka termasuk orang yang padai bersyukur.
Berdasarkan kajian singkat (Q.S. Ibrahim 14:37) sebagai ayah atau leader jangan sampai tidak bertanggung jawab kepada anak dzurriyah yang dipimpinnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan alternatif solusinya. Akhirnya, marilah kita condongkan hati ini ke maqom Ibrahim dan hijir (kamar) Ismail di dekat Baitullah sehingga kita bisa memuhi panggilan-Nya. Amin. (Tubiyono)