Artikel Islami

DIRUT TOURINDO: CERMIN PNS SUKSES BERKARIR

Surabaya.12/7/ 2017.Banyak kepala daerah yang senantiasa mengabdikan diri kepada ibu pertiwi yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan bekerja keras. Bekerja keras bisa disebut bekerja sepenuh hati untuk memenuhi panggilan nurani yang paling dalam karena bekerja merupakan bagian dari ibadah (sosial).

Ada satu cermin bening, gambarnya jelas dapat dijadikan referensi calon pemimpin daerah. Cermin bening itu melekat pada pribadi HR Mohammad Faried, S.H., Direktur Utama PT Tourindo Gerbang Kerta Susila, yang merangkak dari bawah sebagai pegawai Kota Surabaya, Wedana di Kabupten Probolinggo, akhirnya menjadi Bupati Lamongan dua pereode beturut-turut.

Read more ...

PESAN AA NAVIS MELALUI “ROBOHNYA SURAU KAMI”

Surabaya, 13/6/2017. Sebuah karya sastra bukanlah sesuatu yang hampa, kosong, bohong – hoaks – seperti yang dikemukakan oleh Riki Dhamparan Putra (Kompas, 12/6/2017), melainkan karya sastra memiliki kebenaran sendiri, memiliki kandungan nilai universal yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu.

“Robohnya Surau Kami” karya AA Navis secara metaforis menyindir secara cerdas kepada kondisi keberagamaan masyarakat masa itu, masa kini, dan mungkin masa depan yang dinilai masih sangat primitif (A.Helmy Faishal Zaini, Kompas. 19/11/2016). Keprimitifan keberagamaan ini digambarkan tokoh utama Haji Soleh. Karena keberagamaan seseorang diukur oleh tingkat pemahaman kesalehan secara ritual kuantitatif personal. Sebaliknya kesalehan sosial tidak diperhatikan sama sekali termasuk keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan kata lain, AA Navis ingin menyampaikan bahwa pemahaman keberagamaan yang sempit itu tidak tepat. Pemahaman keberagamaan  itu harus seimbang antara hubungan personal dengan Tuhan dan hubungan sosial, budaya, serta politik di lingkungannya.

Read more ...

Pendusta Agama

Judul di atas kelihatan sensitifkarena diksi yang digunakan adalah “pendusta”. “Pendusta” berasal dari kata dasar “dusta” mendapatkan prefiks “pe- “ sehingga menjadi “pendusta” yang referensnya adalah person (orang). Apalagi dibentuk menjadi frasa “pendusta agama” yang berasosiasi negatif kepada pelakunya.
Judul tersebut sebenarnya sebuah pertanyaan retoris dari salah satu ayat dalam Al Quran yaitu (QS, 107:1). Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama (Islam)? Terkait dengan pesan ayat tersebut menarik untuk disimak tulisan A. Helmy Faishal Zaini dalam halaman opini (Kompas, 19 November 2016) dan tulisan analisis politik Yudi Latif (Kompas, 23 Mei 2017). Deskripsi kedua tulisan tersebut erat kaitannya dengan substansi isi al Quran (QS, 107:2-7).
Deskripsi “pendusta agama” secara jelas disebutkan dalam surat Al Maun (QS, 107:2-7). “Pendusta agama” adalah orang yang suka (biasa) menghardik anak yatim, tidak berupaya memberikan makan (fakir) miskin, lalai terhadap salatnya, hanya ria (pamer), dan berat memberikan bantuan (pertolongan) kepada sesamanya.
Jadi, secara substansial ayat pertama yang dipakai judul ini (QS, 107:1) “pendusta agama” diharapkan endingnya menjadi sebaliknya yaitu “penegak agama”. Yang dimasksud “penegak agama” adalah orang yang senang menyantuni anak yatim, senantiasa menganjurkan (berupaya) memberi makan kepada (fakir) miskin, tegak salatnya (sadar/tidak lupa), tidak ria, dan senang memberikan bantuan kepada sesamanya. Dengan demikian, kandungan (QS, 107:1-7) secara semantis mengandung peringatan dan sekaligus petunjuk “bagaimana beragama yang benar” sehingga agama bisa tegak.

Read more ...