Artikel Islami

JANGAN MANJAKAN HAWA NAFSU

Sering kita dengar nasihat orang tua yang bijak, "aja nuruti hardaning hawa nafsu" karena hawa nafsu kecenderungannya ke arah negatif. Jika hawa nafsu tidak diikuti (dituruti) biasanya cepat marah. Hawa nafsu cenderung menjauhi kebenaran. Untuk itu, janganlah kiranya kita memanjakan hawa nafsu menjadi panglima dalan diri kita yang mengarahkan kepada hal negatif. Karena kasih sayang Allah SWT semata, kita diberi peringatan, berupa informasi bahwa kalau hawa nafsu mengajak kita berbuat salah/dosa. Padahal Allah SWT akan menerima taubat kia, sebaliknya, orang yang mengikuti hawa nafsu akan mengajak berpaling untuk menjauhi kebenaran (QS 4:27).

Kita diberi kepercayaan oleh Allah SWT menjadi pemimpin (leader) pada tempat dan zamannya. Seorang leader harus adil dalam menghadapi segala urusan, tidak dibenarkan menangani suatu hal/urusan berdasarkan hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkan kita semua. Hawa nafsu akan menyeret kita ke azab yang berat (QS, 38:26).

Read more ...

DIRUT TOURINDO: CERMIN PNS SUKSES BERKARIR

Surabaya.12/7/ 2017.Banyak kepala daerah yang senantiasa mengabdikan diri kepada ibu pertiwi yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan bekerja keras. Bekerja keras bisa disebut bekerja sepenuh hati untuk memenuhi panggilan nurani yang paling dalam karena bekerja merupakan bagian dari ibadah (sosial).

Ada satu cermin bening, gambarnya jelas dapat dijadikan referensi calon pemimpin daerah. Cermin bening itu melekat pada pribadi HR Mohammad Faried, S.H., Direktur Utama PT Tourindo Gerbang Kerta Susila, yang merangkak dari bawah sebagai pegawai Kota Surabaya, Wedana di Kabupten Probolinggo, akhirnya menjadi Bupati Lamongan dua pereode beturut-turut.

Read more ...

PESAN AA NAVIS MELALUI “ROBOHNYA SURAU KAMI”

Surabaya, 13/6/2017. Sebuah karya sastra bukanlah sesuatu yang hampa, kosong, bohong – hoaks – seperti yang dikemukakan oleh Riki Dhamparan Putra (Kompas, 12/6/2017), melainkan karya sastra memiliki kebenaran sendiri, memiliki kandungan nilai universal yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu.

“Robohnya Surau Kami” karya AA Navis secara metaforis menyindir secara cerdas kepada kondisi keberagamaan masyarakat masa itu, masa kini, dan mungkin masa depan yang dinilai masih sangat primitif (A.Helmy Faishal Zaini, Kompas. 19/11/2016). Keprimitifan keberagamaan ini digambarkan tokoh utama Haji Soleh. Karena keberagamaan seseorang diukur oleh tingkat pemahaman kesalehan secara ritual kuantitatif personal. Sebaliknya kesalehan sosial tidak diperhatikan sama sekali termasuk keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan kata lain, AA Navis ingin menyampaikan bahwa pemahaman keberagamaan yang sempit itu tidak tepat. Pemahaman keberagamaan  itu harus seimbang antara hubungan personal dengan Tuhan dan hubungan sosial, budaya, serta politik di lingkungannya.

Read more ...