Surabaya, 4/2/2018. Akhir-akhir ini, pemberitaan masalah banyaknya calon jemaah umrah yang gagal berangkat ke tanah suci ramai dibicarakan dalam masyarakat. 
Secara faktual, kebanyakan calon jemaah umrah secara psikologis  yang menjadi pertimbangan pertama dan utama adalah nominal biaya umrah yang sangat rendah, bahkan sangat tidak rasional. 
Berdadarkan fakta yang terjadi dalam masyarakat dapat dikatakan bahwa pada umumnya masyarakat memiliki salah satu sifat mudah tergiur atau terkesima kepada hal-hal yang imajinatif, tidak faktual, dan irasional. Sebagian masyarakat terbuai janji yang menggiurkan, ibarat angin surga sehingga banyak yang tertarik/kepincut. Deskripsi tersebut dalam budaya Jawa diungkapkan dengan " kepincut klubuke iwak ing kedhung" (tertarik suara "klubuk-klubuk" akibat gerakan ikan di genangan air yang dalam).
Parafrase ungkapan tersebut adalah adanya suara yang menggiurkan (suara air "klubuk-klubuk)  biasanya pertanda ada  ikan besar di kedung (genangan air yang dalam, biasanya terdapat di sungai). Dengan demikian, naluri masyarakat akan berpaling kepada asal suara tersebut. Padahal, suara yang yang menggiurkan tadi belum tentu ditimbulkan oleh gerakan ikan (iwak) yang besar. Suara tersebut mungkin bisa ditimbulkan oleh buaya, ular, atau  benda tertentu. 
Berkaitan dengan hal itu, maka masyarakat perlu diedukasi untuk melakukan ibadah umrah dan haji agar dapat memilih travel umrah dan haji yang amanah. Akhirnya, masyarakat semakin cerdas dapat mengalkulasi sendiri secara rasional dari persiapan, perjalanan, pelaksanaan, dan sampai berakhirnya perjalanan ibada umrah dan haji. (Tubiyono)